Sebanyak 128 item atau buku ditemukan

Islamic Finance: Why It Makes Sense (For You) — Understanding its Principles and Practices, 2nd Edition

Islamic finance has been growing faster than conventional finance for most of the past decade. It has done this on a model of finance that rejects interest and promotes profit sharing. How is this possible? Yet the wealth potential of Islamic finance is far from being its most attractive feature. What is most compelling about Islamic finance are its ethical principles and strong corporate governance based on Shariah law. This SECOND EDITION explains and updates how conventional financial products work — from mortgages and leases to trade finance and insurance — before delving into their Islamic versions and contains three new topics on microfinance, the ethical company and wealth successionAbout the Authors Daud Vicary Abdullah has been in the finance and consulting industry for more than 40 years, and has focused solely on Islamic finance since 2002. At Hong Leong Islamic Bank, he was instrumental in transforming an Islamic banking window into a full-fledged Islamic banking subsidiary. Today, he helms INCEIF (International Centre for Education in Islamic Finance), the global university for Islamic finance set up by Bank Negara (Central Bank of Malaysia) in December 2005. He is also a frequent speaker and commentator on matters relating to Islamic finance. Keon Chee is a senior executive in Singapore where he oversees the wills, trusts and corporate services businesses in his firm. He has many years' experience in investment research, derivatives, financial training and insurance. He obtained an MBA from Columbia University and an LL.B (Hons) from the University of London, and enjoys using his broad background in helping clients with their estate planning needs. He is also co-author of the best-selling Make Your Money Work For You.

This SECOND EDITION explains and updates how conventional financial products work — from mortgages and leases to trade finance and insurance — before delving into their Islamic versions and contains three new topics on microfinance, the ...

Courtly Culture and Political Life in Early Medieval India

Scholars have long studied classical Sanskrit culture in almost total isolation from its courtly context. Originally published in 2004, this book focuses exclusively on the royal court as a social and cultural institution. Using both literary and inscriptional sources, it begins with the rise and spread of royal households and political hierarchies from the Gupta period (c. 350–750), and traces the emergence of a coherent courtly worldview which would remain stable for almost a millennium to 1200. Later chapters examine key features of courtly life such as: manners, ethics, concepts of personal beauty, and theories of disposition. The book ends with a sustained examination of the theory and practice of erotic love in the context of the wider social dynamics and anxieties which faced the people of the court.

Scholars have long studied classical Sanskrit culture in almost total isolation from its courtly context. This book focuses exclusively on the royal court as a social and cultural institution.

Protecting the Marine Environment from Land-based Sources of Pollution

Towards Effective International Cooperation

Identifying the sources and effects of land-based marine pollution, this volume analyzes the problems of controlling them and examines the management principles, policy and regulation at both regional and international level. The text provides a valuable insight into an important area of international environmental law.

Identifying the sources and effects of land-based marine pollution, this volume analyzes the problems of controlling them and examines the management principles, policy and regulation at both regional and international level.

Prosiding Kongres Pancasila IV

Srategi Pelembagaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menegakkan Konstitusionalitas Indonesia

Kongres Pancasila IV ini merupakan rangkaian dan kesinambungan dari Kongres Pancasila sebelumnya, yaitu Kongres Pancasila I tgl 1 Juni 2009 di Yogyakarta; Kongres Pancasila II tgl. 1 Juni 2010 di Denpasar; dan Kongres Pancasila III tgl.1 Juni 2011 di Surabaya. Dari tiga kali Kongres Pancasila tersebut telah banyak dihasilkan rumusan-rumusan deklarasi yang sangat berkualitas dan bermakna. Atas dasar hasil-hasil yang telah dicapai dari Kongres Pancasila sebelumnya itu, maka pada Kongres Pancasila IV kali ini dipilih dan ditetapkan tema “Strategi Pelembagaan Nilai-nilai Pancasila dalam Menegakkan Konstitusionalitas Indonesia”. Tema ini dipilih dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: Saat ini tidak ada lembaga khusus pengawal Pancasila. Padahal, diakui atau tidak Pancasila adalah dasar Negara Indonesia. Keadaan ini dinilai jauh lebih buruk jika dibandingkan dengan masa sebelum reformasi. Saat itu, MPR mempunyai berbagai wewenang, dan salah satunya “memelihara” Pancasila. Ketiadaan lembaga khusus pengawal Pancasila itu menyebabkan Pancasila kehilangan dasar legitimasi kenegaraannya. Ketiadaan lembaga khusus pengawal Pancasila, berimplikasi pada tidak adanya mekanisme yang jelas dalam mensosialisasikan Pancasila. Peran tersebut saat ini nampaknya berusaha dimainkan oleh MPR dengan slogan kebanggaannya “4 Pilar Hidup Bernegara” yang mensejajarkan posisi Pancasila dengan NKRI, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Terlepas dari ketidaktepatan konsep dasar yang ada dalam slogan itu, kita mengakui bahwa MPR memiliki niat baik untuk membumikan Pancasila. Saat ini tidak ada rambu-rambu pengimplementasian Pancasila yang jelas dan baku. Padahal, rambu-rambu itu mutlak diperlukan agar dapat diperoleh hasil yang optimal. Dengan kata lain, rambu-rambu itu perlu segera diadakan. Mempertimbangkan hal-hal diatas, kiranya perlu ada upaya serius untuk membentuk atau menunjuk lembaga khusus pengawal Pancasila, yang nantinya diberi wewenang, antara lain untuk menyusun rambu-rambu pengimplementasian Pancasila tersebut secara tepat, terstruktur, dinamis dankontekstual.

Immanuel Kant mengemukakan konsep negara hukum dalam arti sempit, yang
menempatkan fungsi “rechts” pada “staat”, hanya sebagai alat perlindungan hak-
hak individual dan kekuasaan negara diartikan secara pasif, yang bertugas
sebagai pemelihara ketertiban dan keamanan masyarakat, yang dikenal dengan
sebutan nachtwachkerstaats atau nachtwachterstaats (M. Tahir Azhary, 1992: 73-
74). Friedrich Julius Stahl dalam Staat and Rechtslehre II, mengemukakan empat
 ...

Buku Pintar Membaca

untuk TK

Belajar membaca merupakan tahap penting dalam proses perkembangan anak. Membaca merupakan gerbang pertama untuk menuju proses pembelajaran yang lebih kompleks. Tentunya sangat membanggakan jika anak-anak kita bisa membaca sejak usia dini. Buku ini bisa menjadi media belajar membaca yang efektif dan menyenangkan bagi anak-anak. Metodenya diawali dengan pengenalan huruf, pengejaan suku kata, kata sederhana, lalu kalimat sederhana. Di dalamnya juga terdapat gambar dan permainan yang akan membantu menarik perhatian anak-anak. Selain itu, buku ini dilengkapi pula dengan bonus kartu huruf yang komplet dan berwarna. Harapannya, dengan kartu ini anak-anak bisa belajar berkreasi menyusun kata dan kalimat sendiri. -Cikal Aksara-

Belajar membaca merupakan tahap penting dalam proses perkembangan anak.

Fenomena Sunnah di Indonesia

potret pergulatan melawan konspirasi

Issues on movement against Sunna among the Muslim society in Indonesia.

Issues on movement against Sunna among the Muslim society in Indonesia.

Laporan kepada bangsa

Militer Akademi Yogya

Role of alumni of Military Academy of Yogyakarta in Indonesian defence and security; volume commemorating the 50th anniversary of Akademi Militer Yogya, 1945-1995.

Role of alumni of Military Academy of Yogyakarta in Indonesian defence and security; volume commemorating the 50th anniversary of Akademi Militer Yogya, 1945-1995.