Tulisan ini semula berjudul "Demokrasi Revolusi versus Demokrasi ala Hatta",
oleh editor judulnya disesuaikan dengan isinya menjadi "Demokrasi Kita ala
Hatta dalam Teori dan Praktek ". Sebenarnya kedua nama ini sama saja, tapi ...
Indonesia dilanda krisis ekonomi tetapi bank Islam telah tumbuh dan
berkembang pesat, baik aset, nasabah maupun kantor-kantor ... Selain itu
aktivitasnya dapat mendorong investasi makro dan mikro ditengah masih
lesunya investasi asing.
Saya ingin mengatakan bahwa yang pertama, tidak bisa yang diharap sejak
tahun '97. kemudian masuk '98, ketika orang mau, ingin melakukan suatu
reformasi karena yang hadir pada konteks itu adalah para pencuri, kita
menghaluskannya ...
Belenggu-belenggu ekonomi membuat manusia menjadi homo economicus,
makhluk yang kerjanya cuma nyari duit. ... sistematis, di sini lslam memberikan alternatif norma-norma dan sistem yang mengacu pada pemberdayaan
masyarakat.
Ini sangat terasa sehingga mengidam-idamkan tatanan alternatif yang lebih baik
dari zaman penjajahan, juga lebih mudah. ... Contoh tatanan ekonomi yang lebih
maju dari sistem kapitalisme di benua Barat bukannya tidak ada, tetapi masih ...
"DEMOKRATISASI di Indonesia pasca-Reformasi 1998 telah memperoleh pengakuan dan pujian dari dunia internasional. Indonesia pun disanjung-sanjung sebagai negara demokratis terbesar ketiga di dunia. Kendati demikian, kehidupan demokrasi saat ini masih diwarnai berbagai masalah akut seperti korupsi, politik dinasti, atau politik kartel. Semua ini merebak luas bersamaan dengan desentralisasi dan otonomi daerah. Melalui analisis mendalam atas seluk-beluk pemilihan kepala daerah langsung (Pilkada) yang telah berlangsung sejak 2005, buku ini memaparkan dua perspektif—neo-institusionalis yang optimistik dan relasi kuasa yang kurang optimistik—dalam memahampersoalan tersebut. Penulis juga memberi sudut pandang yang lebih komprehensif untuk menjembatani kedua perspektif tersebut. Buku ini merupakan literatur yang baik bagi pembaca yang ingin memahami demokrasi Indonesia. *** “Buku ini merupakan usaha untuk menelaah ulang demokrasi di Indonesia, khususnya dari sudut pandang pertarungan politik di sekitar pemilihan kepala daerah (Pilkada). Penulis berupaya memberikan perspektif yang dibentuk lewat eksplorasi berbagai teori ilmu sosial mengenai kekuasaan dan konflik sosial. Dalam hal ini, ia memberikan sumbangan yang agak ‘beda’ dari sebagian penulis yang cenderung hanya menawarkan deskripsi tentang seluk-beluk pertarungan Pilkada. Sebagai upaya memadukan teori sosial dengan analisis empiris, buku ini patut didukung.” -- Vedi Hadiz, Professor of Asian Studies, Asia Institute, The University of Melbourne"