Sebanyak 88740 item atau buku ditemukan

KONSELING PROFESIONAL YANG BERHASIL: Layanan dan Kegiatan Pendukung - Rajawali Pers

Kajian tentang manusia secara mendasar dan seutuhnya menghasilkan kemasan dalam konsep kondisi Lima-O. Pertama, O = Bio dalam makna Biologi. Kejadian dan perkembangan manusia diawali secara biologis berupa janin di perut Sang Ibu, menjadi bayi, anak, remaja, orang dewasa, lanjut usia sampai menemui ajalnya. O kedua, yaitu O = Psiko dalam makna Psikologi. Umur sekitar 3 bulan di perut Sang Ibu terhadap janin itu ditiupkan ruh yang menjadikan janin sebagai manusia yang berbajiwa-raga dengan kehidupan sepanjang hayatnya. O ketiga, O = Sosio dalam makna Sosiologi. Kehidupan manusia yang berjiwa-raga itu berada dalam kondisi hubungan sosial satu sama lain dan dengan lingkungannya. Tiga O di atas merupakan kelengkapan dasar awal adanya manusia. Bagaimana selanjutnya, akan menjadi apa, ke mana dan bagaimana? Inilah peran O keempat, yaitu O = Pedago dalam makna Pedagigio atau pendidikan, yang memungkinkan kesatuan tiga-O pertama itu diperkembangkan dan diwujudkan. Begitulah selanjutnya. Namun demikian, upaya implementasi O keempat itu tidak boleh seadanya, asal-asalan atau semaunya yang menjadikan kondisi tiga-O awal itu berkembang tidak optimal atau menyimpang, atau bahkan berantakan. Untuk itu diperlukan O kelima, yaitu O = Ridho Allah. Ke arah O kelima itulah O keempat berdinamika demi optimannya eksistensi ketiga O awal. Dalam totalitas kehidupan manusia, O keempat merupakan keharusan, dengan kekentalan warna O kelima, dalam rangka mengoptimalkan kehidupan manusia secara positif dan berhasil. Untuk itu, terkait dengan kondisi dan permasalahan kehidupan nyata manusia, terdapat O4s sebagai salah satu subwilayah O keempat, yaitu O4s = Profesio dalam makna Keprofesionalan, terfokus pada pelayanan untuk mengoptimalkan kehidupan manusia, khususnya terkait dengan permasalahan yang ada dan yang mungkin terjadi. Salah satu O4s tersebut adalah Profesi Konseling dengan fokus pelayanan terhadap pengembangan kehidupan efektif sehari-hari (KES) dan penanganan kehidupan efektif yang terganggu (KES-T) manusia, baik secara individual maupun kelompok. Pelayanan Konseling Profesional dengan fokus KES dan KES-T itu terkait langsung dengan O kelima, yaitu Ridho Allah. Dalam kaitan itu semua, pelayanan Konseling Profesional yang Berhasil, secara menyeluruh mengangkat dan memuliakan kelima O. Lebih jauh dan terfokus, kaitan agar segenap kehidupan manusia memenuhi kondisi kelima O secara optimal, baik secara sendiri-sendiri maupun saling keterkaitannya, prinsip TJS (Tiga Jadi Satu), yaitu ilmiah, amaliah, dan imaniah harus terintegrasikan di dalamnya. Dalam hal itu semua, Konseling Profesional yang Berhasil mengintegrasikan teori-praksis dan praktik secara tepat memenuhi prinsip TJS tersebut. Logo konseling dan lagunya sebagai berikut mengilustrasikan idealisme demikian itu.

Kajian tentang manusia secara mendasar dan seutuhnya menghasilkan kemasan dalam konsep kondisi Lima-O. Pertama, O = Bio dalam makna Biologi.

Landasan dan Arah Konseling Profesional: Konseling Adalah Pendidikan - Rajawali Pers

KEHIDUPAN manusia diibaratkan sebagai perahu yang sedang berlayar di waktu malam. Kegiatan berlayar itu menghadapi berbagai rintangan dan masalah yang harus dicegah dan diatasi oleh penumpang yang dipimpin nakhoda kapal. Siapa nakhoda itu? Yaitu seorang individu yang bertanggung jawab atas diri sendiri dan orang lain. Konselor diibaratkan sebagai “nakhoda” dalam kinerja konseling yang setiap kali melayani klien sebagai “penumpang” yang menjadi tanggung jawab konselor, yang mana klien sedang berada dalam kondisi “pelayaran diri sendiri atau bersama” yang sedang mengalami ombak besar atau bahkan badai yang berbahaya. Di situlah konselor dituntut untuk ber-TJS yang bermartabat untuk menjalankan proses konseling melalui kegiatan pendidikan dalam bentuk proses pembelajaran, yang mana proses pembelajaran itu tidak lain adalah pelaksanaan secara terintegrasikan berbagai komponen sebagaimana digambarkan dalam logo konseling, yaitu: 1.Kehidupan individu yang berada dalam kesatuannya dengan kondisi dan per- kembangan dunia-akhirat. 2.Praktik konseling yang berada dalam situasi pendidikan. 3.Kehidupan individu dalam kaitannya dengan Sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa dan kehidupan sosial. 4.Proses konseling yang secara langsung melibatkan kegiatan konselor dan klien. Proses konseling diselenggarakan dengan mengaktifkan berbagai layanan dan kegiatan pendukung menuju ke kondisi DBMSB-DA melalui dinamika BMB3-5As dalam kerangka pengembangan KES dan penanganan KES-T.

KEHIDUPAN manusia diibaratkan sebagai perahu yang sedang berlayar di waktu malam.

Wawasan Bimbingan dan Konseling : Menelusuri Sejarah Menuju Penerapan Terkini

Bimbingan konseling pertama kali muncul di Amerika Serikat, dengan Frank Parson sebagai pelopor utamanya. Dia memimpin "gerakan bimbingan" yang bertujuan untuk membantu para veteram perang yang tidak memiliki pekerjaan. Frank Person berupaya memberikan bimbingan karier untuk memastikan para veteran bisa tetap bekerja, apapun kondisi mereka. Seiring waktu, gerakan ini berkembang dari bimbingan vokasional ke bidang lain dan akhirnya menjadi bagian dari pendidikan formal. Bimbingan dan konseling telah berkembang seiring dengan perubahan dalam pemahaman pendidikan dan masyarakat tentang psikologi. Perubahan ini mencerminkan evolusi konsep dari tradisi filosofis ke praktik profesional yang terstandarisasi, memenuhi berbagai kebutuhan individu dalam berbagai konteks dan budaya.

Bimbingan konseling pertama kali muncul di Amerika Serikat, dengan Frank Parson sebagai pelopor utamanya.

Profesi Bimbingan dan Konseling

Membangun Profesi BK yang Profesional

Melalui buku ini, penulis mencoba menyajikan bahasan tentang sejarah singkat munculnya profesi bimbingan dan konseling, keprofesionalan bimbingan dan konseling, standardisasi bimbingan dan konseling, karakteristik kepribadian konselor, program pendidikan profesional konselor, lapangan praktik pelayanan profesional konselor, hubungan profesi bimbingan dan konseling dengan profesi lain, profesi konselor abad ke-21, serta organisasi dan kode etik profesi bimbingan dan konseling.

Melalui buku ini, penulis mencoba menyajikan bahasan tentang sejarah singkat munculnya profesi bimbingan dan konseling, keprofesionalan bimbingan dan konseling, standardisasi bimbingan dan konseling, karakteristik kepribadian konselor, ...

Instrumentasi Tes dalam Bimbingan dan Konseling

Apakah Anda seorang mahasiswa Bimbingan dan Konseling, guru BK, atau praktisi pendidikan yang sering merasa kesulitan memahami potensi, minat, dan kepribadian peserta didik? Buku Instrumentasi Tes dalam Bimbingan dan Konseling hadir sebagai solusi untuk membantu Anda menguasai asesmen psikologis secara teori maupun praktik. Disusun secara sistematis, buku ini membahas mulai dari dasar-dasar pengukuran, etika penggunaan tes, hingga panduan lengkap berbagai jenis tes mulai dari inteligensi, bakat, minat, kreativitas, kepribadian, prestasi belajar, hingga kesiapan belajar. Dengan bahasa yang sederhana dan contoh penerapan nyata di sekolah, buku ini tidak hanya memberi pemahaman konseptual, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung diaplikasikan. Buku ini akan menjadi teman setia Anda dalam menyusun strategi konseling, memahami individu secara lebih mendalam, serta memberikan layanan bimbingan yang tepat sasaran. Cocok digunakan sebagai buku ajar perkuliahan, panduan kerja konselor, maupun referensi praktis guru dan pendidik.

Buku Instrumentasi Tes dalam Bimbingan dan Konseling hadir sebagai solusi untuk membantu Anda menguasai asesmen psikologis secara teori maupun praktik.