Kehadiran buku ini diharapkan bisa mengisi kekosongan pembahasan sekitar materi-materi filsafat sejarah yang dianggap masih terasa langka. Meskipun sudah banyak orang membicarakan materi-materi dunia sejarah, namun yang membicarakan dari sudut pandang dan konstruksi filsafat dalam tiga substansi; profetik, spekulatif, dan kritis belum ada yang menyinergikannya. Umumnya buku-buku filsafat sejarah yang ditulis oleh penulis di Indonesia berkutat pada spekulatif dan kritis dengan uraian yang cukup panjang. Ada juga beberapa buku yang terkait dengan materi filsafat sejarah profetik, dengan mengambil bahan-bahan kajian dari Al-Qur’an dan al-Hadis, namun disajikan dengan cara terpisah-pisah sehingga menyulitkan para mahasiswa dalam memahaminya. Sering kali pula uraian-uraian filsafat sejarah yang disajikan sangat panjang, tidak mengutamakan substantifnya, bahkan terkesan bertele-tele sehingga seringkali membuat mahasiswa banyak mengeluh, karena sulitnya memahami pemikiran filsuf sejarah tersebut. Padahal substansi isinya yang mengandung sejumlah teori-teori penting harus dikembangkan dalam berbagai penalaran diskusi dan digunakan ke dalam pembacaan sejarah secara kritis. Belum lagi persoalan bagaimana penerapan teori filsafat sejarah untuk menganalisis peristiwa sejarah, selalu saja menjadi persoalan tersendiri. Semua problem tersebut pada akhirnya kembali menjadi tanggung jawab para pengajar atau dosen pengampu bidang filsafat sejarah; bagimana agar para mahasiswa mampu memahami dan dapat melakukan analisis sebuah peristiwa sejarah, dengan “kacamata” filsafat sejarah. Terutama untuk mahasiswa yang sedang melakukan penelitian (riset) dan tugas akhir berupa skripsi, tesis maupun disertasi Buku persembahan penerbit PrenadaMediagroup
pidato diutjapkan dalam upatjara peringatan Dies Natalis ke 2 Perguruan tinggi agama islam negeri Jogjakarta di Gedung negara Jogjakarta pada tanggal 26 september 1953
Kecenderungan oleh sementara orang untuk menunaikan ibadah haji secara
berulang, karena ingin meningkatkan ibadah27, meningkatkan keimanan28 dan
bti-fastabiqul khoirof9, tetapi bisa juga berkesan pamrih. Sebelum berangkat naik
haji, terdapat pola umum bagi orang yang akan naik haji pertama kali, yaitu
berziarah ke kubur orang- tuanya; mengunjungi tetangga, kenalan, atau saudara
untuk tujuan meminta maaf meminta doa restu, dan mengunjungi kyai untuk
dimintai ...
92 Dengan kata lain, menyampaikan dakwah Islam itu tidak harus menghukumi
dengan label haram, kafir, munafik, dan sebagainya, tetapi dengan perkataan simpatik yang menawarkan atau menyejukkan hati masyarakat dengan memberi
mereka pilihan-pilihan yang lebih baik. Hal tersebut akan lebih relevan dengan
arti kata dakwah yang mengandung konotasi memanggil atau mengundang,
karena posisi subjek dakwah adalah tamu yang harus dihormati oleh dai
sebagai pelaku ...
8. H.M.Hilman Anshary, Resonansi Spiritual Wali Quthub Syaikh Abdul Qodir
Jilany, Kalam Mulia, Jakarta, 2004. Karya ini hanya mengulas beberapa materi-
materi yang pernah diungkap oleh karya-karya Syekh Abdul Qodir lainnya. 9.
Habib Abdullah Zakiy al-Kaf, Manaqib Syaikh Abdul Qadir al-Jailani; Perjalanan
Spiritual Sulthanul Aulia, Pustaka Setia, Bandung,2003. Penulis yang berdomisili
di Bandung ini, juga nampaknya ingin berpartisipasi dalam mempopulerkan
manaqib ...
Pranata, institution Lembaga, institute, atau organisasi • Pendidikan teknologi •
Institut Teknologi Bandung • Pendidikan agama • Institut Agama Islam •
Keamanan negara • Departemen Hankam • Olahraga (sepakbola) • PSSI
Pranata Ciri-ciri ...
(3) Hukum tidak dapat memainkan perannya secara optimal. Karena tiada bukti
kuat untuk hal itu. B. Nikah Sirri dalam Pandangan Islam Untuk menyikapi
permasalahan nikah sirri, kita hendaknya mengacu pada ajaran Islam. Pertama ...