Sebanyak 9 item atau buku ditemukan

Arus Baru Pemikiran Islam: Catatan Kritis dari Gang Buni Ciputat

Uraian buku ini secara umumnya memuat tentang pikiran-pikiran para Doktor yang telah menyelesaikan studinya di Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pikiran tersebut berkaitan erat dengan konsentrasi atau keahlian para penulis yang interdisipliner. Interdisipliner tersebut berisi kajian Islam, terintegrasi dengan ilmu pengetahuan yang termuat dalam kajian Pendidikan Islam, Ekonomi Islam, Tafsir, Pemikiran Islam, Komunikasi Massa, Hukum Islam, Tasawuf, dan Filsafat. Integrasi Islam dan ilmu pengetahuan adalah untuk mewujudkan rahmat Tuhan di muka bumi, mengingat semua ilmu itu pada hakikatnya dari Tuhan. Sumber ilmu berupa ayat-ayat Allah (wahyu) adalah ayat Tuhan (ayat al-qauliyah), alam jagat raya adalah ayat Tuhan (ayat al-kauniyah), fenomena sosial adalah ayat Tuhan (ayat al-insaniyah), akal pikiran dan hati nurani adalah ayat Tuhan. Ilmu pengetahuan yang terintegrasi dengan Islam diharapkan dapat membangkitkan kembali semangat dan tradisi riset yang pernah dimiliki dan dipraktikkan umat Islam di masa lalu, sehingga dapat memberikan kontribusi bagi pemecahan berbagai problem yang dihadapi masyarakat modern saat ini dan masa yang akan datang. Sudah barang tentu apa yang telah diupayakan dalam buku ini belum sempurna sesuai harapan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kritik, saran dan masukan yang konstruktif sangat diharapkan oleh penulis demi kesempurnaan penulisan buku ini. Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak dan secara khusus kepada SPS UIN Jakarta yang telah menerima kehadiran serta memperkenalkan kami dalam sidang Promosi Doktor pada Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sehingga ide ide segar dapat terus hidup sebagaimana isi di dalam buku ini.

... klasik hingga zaman modern/kontemporer. Model epistemologi peripatetik berkembang di zaman klasik, epistemologi 'irfan dan hikmah di zaman pertengahan, serta epistemologi perennial dan rasional di zaman modern/kontemporer. Dinamika ini ...

Teori & Teknik Konseling

Materi dalam buku ini merupakan materi mata kuliah Teori dan Teknik Bimbingan dan Konseling Semester IV mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

Materi dalam buku ini merupakan materi mata kuliah Teori dan Teknik Bimbingan dan Konseling Semester IV mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Ushuluddin Dakwah dan Adab IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

‘Ulumul Qur’an: Prinsip-Prinsip dalam Pengkajian Ilmu Tafsir Al-Qur’an

Allah telah menurunkan Al-Qur’an ke muka bumi sebagai wahyu yang mengandung mukjizat bersifat universal membawa misi sebagai Kitab Suci yang menjadi pedoman hidup manusia untuk mengeluarkan dari suasana yang gelap menuju terang benderang. Kandungan-kandungannya memberi petunjuk kepada manusia ke arah jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang didasarkan pada keimanan. Ayat-ayatnya terpatri hukum-hukum syari’at, mu’amalat, politik dan akhlak sosial. Untuk itu Al-Qur’an wajib dipelajari dan diamalkan dalam kehidupan kita yang eksistensinya menjadi rahmatan lil ‘alamin sampai akhir zaman. Dan ketika men-tadabburi-nya akan terasa kedalaman lautan ilmu isi kandungannya tentang hakikat hidup dan kehidupan Dunia sampai dengan Akhirat serta membahas seluruh esensinya. Al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi akan melahirkan gagasan, saran, pemikiran, penemuan ilmiah, tatanan sosial yang egaliter, keyakinan kebenaran Ilahi, memperkaya pengetahuan, petunjuk dan kesejahteraan manusia serta meninggikan harkat dan martabat manusia. Dari wahyu pula bisa membebaskan pikiran-pikiran jumud, emosi-emosi yang terbelenggu dan keterbelakangan. Oleh karenanya kajian terhadap wahyu membutuhkan ‘Ulumul Qur’an dengan berbagai metode dan pendekatannya. Pembahasannya mengalami perkembangan yang dinamis seiring dengan tuntutan perkembangan pemikiran manusia dan perkembangan zaman. Maka dari itu buku yang dihadapan Anda ini sangat penting dipelajari. Selamat membaca !

Semua tata aturan dalam Islam bersumber dari kitab suci Al-Qur'an yang diturunkan secara berangsur-angsur kepada penutup para Nabi dan Rasul, Muhammad SAW, selama kurang lebih 23 tahun lamanya. Al-Quran mengajak untuk mempelajari ...

Nalar Fiqh ‘Ulama’ Kontemporer Atas Hukum Jihad: Studi Komparasi Muhammad Sa‘id Ramadan al-Buti dan ‘Abdallah ‘Azzam

Dalam Islam, interrelasi antar manusia setidaknya dibagi dalam tiga kategori keterhubungan solidaritas: solidaritas antar orang Islam, solidaritas antar warganegara dan solidaritas antar sesama manusia. Ketiga model kerangka solidaritas tersebut menjadikan antara individu satu dengan individu lain tidak pernah tidak saling terhubung. Kalau bukan karena kesamaan agama, individu satu dan lainnya terhubung karena kesamaan statusnya sebagai warga negara. Jika bukan karena kesamaan status kewarganegaraannya, maka terhubung karena keberadaannya di muka bumi ini sebagai sesama manusia: makhluk yang paling mulia di muka bumi dan paling kompleks misi dan tugasnya untuk memakmurkan alam semesta dan seisinya. Pendek kata, diantara manusia, selalu ada tali pengikat kebersamaan antar individu sehingga diharapkan untuk bisa saling mencegah dan merajut jika dirasa ada potensi untuk terputusnya kesalingterhubungan. Khazanah fiqh Islam mengenal istilah dar al-harb dan dar al-salam. Dalam situasi ketegangan dan potensi kerusakan hubungan, dilukiskan kondisi manusia berada dalam konflik dan peperangan. Maka, berlaku hukum peperangan (dar al-harb), status kondisinya berada dalam teritori konflik dan perang. Berlakulah hukum perang. Sebaliknya, dalam situasi saling menyambung dan bekerjasama serta dalam keharmonisan, maka berlaku hukum perdamaian (dar al-salam). Klasifikasi perang dan damai, sebenarnya melukiskan kondisi kehidupan manusia yang terlalu sederhana. Hitam putih. Tetapi, di dalam penyederhanaan klasifikasi tersebut, dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa damai sebenarnya lebih disukai. Perang harus dihindari. Perang hanyalah sebuah keterpaksaan. Karena kata Islam itu sendiri bermakna otentik dan generik sebagai sinonim dengan damai (salam). Itu berarti, orang Islam harus identik dengan dimensi damai. Karena dimaksudkan dalam alur pemahaman yang demikian, maka, baik al-Qur’an maupun al- Hadith banyak sekali menjelaskan tentang fondasi kebaikan untuk menuju masyarakat yang damai. Sebaliknya, keduanya mengisahkan adanya masyarakat yang brutal dan barbar yang tidak ada pedoman nilai yang berlaku karena situasi chaotic dan perang. Manusia diperintahkan untuk senantiasa dan berusaha untuk berada dalam kondisi damai, mencegah dirinya tercebur dan terjerumus dalam kondisi perang. Dewasa ini, seiring dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan semakin banyaknya pengalaman umat manusia dalam interaksi antar sesamanya, maka instrumen dan protokol peraturan untuk menuju kedamaian akan semakin dicari dan digandrungi. Baik dalam level lokal, nasional, regional maupun internasional. Sementara, faktor-faktor yang dapat memicu ketegangan, konflik dan peperangan akan semakin dicegah. Setidaknya, selalu ada kesepakatan-kesepakatan untuk pencegahannya. Tidak hanya mencegah secara kuratif, tetapi mencegah secara preventif, bahkan mencegah secara pre-emptif. Karena pencegahan dengan model demikian, maka bukan hanya tentang perlombaan senjata atau konflik fisik saja yang diupayakan untuk dicegah, tetapi potensi laten yang ada dalam individu, tradisi dan bahkan agama yang dapat memicu terjadinya ketegangan yang sewaktuwaktu dapat membesar menjadi konflik, dan peperangan juga dicegah. Sebut saja, perilaku individu dan primordialisme tradisi dan agama yang disalah tafsirkan sehingga menimbulkan diskriminasi, ketidakadilan dan intoleransi. Kemajuan instrumen pencegahan di atas sangat mungkin untuk mengilhami lahirnya fiqh interaksi baru antar manusia yang lebih maju dan berdimensi untuk pencegahan juga. Tidak hanya berhenti pada klasifikasi dar al-harb dan dar al-salam, tetapi bisa meluas dan melebar menjadi fiqh toleransi antar kelompok, fiqh berbasis perdamaian dan fiqh yang mengeliminasi akar kekerasan, baik komunal maupun individual. Buku yang ditulis oleh saudara Fahmi Majid menjadi salah satu upaya rintisan untuk menuju kepada pemahaman demikian. Sebagai karya ilmiah tentu karya tersebut (mungkin) masih mengandung perdebatan. Sangat boleh jadi, pembaca akan menyatakan bahwa riwayat hidup dan keterlibatan sosial ‘Abdallah ‘Azzam berbeda dengan Muhammad Sa’id Ramadan al- Buti. Oleh karenanya, tafsir dan penghayatan mereka tentang jihad juga berbeda. (Memaksa) menempatkan dan menyamaratakan pemaknaan jihad dari dua individu dengan setting sosio-historis yang berbeda, akan tidak adil dan tidak jujur. Bisa jadi akan muncul pendapat demikian. Tetapi, penulis juga berhak untuk menyatakan, bahwa penafsiran dan pemaknaan ‘Azzam tidak pada tempatnya juga untuk terus dipelihara dan diwariskan. Justru karena setting sosial-historis yang berbeda tersebut. Artinya, umat Islam di manapun berada, akan memiliki dinamika sendiri. Sangat boleh jadi, dinamika tersebut berbalik dan berbeda dengan dinamika di saat mana ‘Azzam hidup dan terlibat dalam persoalan zamannya. Terlepas dari itu semua, setetes ilmu yang ada akan ikut menambahkan tetesan air yang sudah terkoleksi. Jika terus tetesan tersebut bertambah, apalagi menjadi semakin deras, tidak tertutup kemungkinan untuk menjadi danau air yang semakin dalam. Semoga buku ini akan mempercepat terbentuknya danau air tersebut.

Memaparkan teori jihad 'Ulama>' fiqh kontemporer yang relevan di era modern. 2. Mengaplikasikan nalar fiqh jihad kontemporer untuk mencapai revolusi perdamaian sebagai cita-cita sosial dalam syariat islam. juga menangkal ideologi ...

Pengantar Ilmu Tasawuf

Buku daras ini disusun dalam rangka untuk menjadi bahan referensi bacaan mata kuliah Pengantar Ilmu Tasawuf. Materi-materi bahasan yang terdapat dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Tasawuf ini mengambil sosok karakteristik Waliyullah (kekasih allah).

Al-Qazwini, Abi Abdilllah Muhammad bin Yazid, tt, Sunan Ibnu Majah. Thaha Putra, Semarang. Juz II. Al-Qatthon, Manna', tt., Mabahits Fi Ulum Al-Qur'an. Masyurot al-Ashril Hadits, 126 | Pengantar Ilmu Tasawuf.

Metode Alternatif dalam Menafsirkan Ayat-ayat Beredaksi Mirip

Rekonstruksi atas Metode Penafsiran Nashruddin Baidan

Metode penafsiran ayat beredaksi mirip yang digagas Nashruddin Baidan dalam bukunya“Metode Penafsiran al-Qur’an: Kajian Kritis terhadap Ayat-ayat Beredaksi Mirip”, belum sepenuhnya berhasil mengungkapkan makna ayat beredaksi mirip secara utuh. Hal ini dikarenakan tujuan utamanya mengungkapkan maksud dan tujuan di balik perbedaan redaksi, sehingga kajiannya berhenti pada aspek perbedaan redaksi. Padahal ayat beredaksi mirip juga memiliki hubungan makna, yang salah satunya dapat diketahui dari persamaan redaksi dan tema ayat beredaksi mirip. Penelitian ini bersifat kepustakaan (Library Research), dengan obyek kajian metode penafsiran Nashruddin Baidan terhadap ayat beredaksi mirip. Bersumber pada data primer buku Nashruddin Baidan berjudul Metode Penafsiran al-Qur’an: Kajian Kritis terhadap Ayat-ayat Beredaksi Mirip dan data sekunder berupa karya lain Nashruddin Baidan. Data dikaji dengan metode deskriptif-analitik, dengan pendekatan content analysis dan interpretasi. Dalam menghimpun ayat-ayat beredaksi mirip penulis menggunakan beberapa kitab seperti: ‘Aun al-Rahmân fî Hifz al-Qur’ân karya Abî Dzar al-Qalmûnî, Sabîl al-Itqân fî Mutasyâbih al-Qur’ân karya Muhammad Nasr al-Dîn Muhammad ‘Audah dan Ensiklopedi al-Qur’an: Kumpulan Ayat-ayat Beredaksi Mirip karya M. Fathoni Dimyati. Adapun dalam menafsirkan ayat-ayat beredaksi mirip, penulis merujuk kitab-kitab tafsir, seperti: Durrah al-Tanzîl wa Ghurrah al-Ta’wîl karya al-Iskâfî, al-Burhân fî Taujîh Mutasyâbih al-Qur’ân karya al-Kirmânî, Tafsîr al-Manâr karya Rasyîd Ridâ, al-Tahrîr wa al-Tanwîr karya Ibnu ‘Âsyûr dan lain sebagainya. Buku ini menawarkan sebuah metode alternatif dalam menafsirkan ayat-ayat beredaksi mirip, yang diharapkan dapat mengungkapkan makna ayat beredaksi mirip secara utuh, yang terdiri dari lima langkah operasional dan beberapa pendekatan yang digunakan sebagai alat analisa. Langkah-langkah yang dimaksud adalah: mengidentifikasi dan menghimpun ayat beredaksi mirip, membanding-kan persamaan dan perbedaan redaksi ayat beredaksi mirip, mengungkapkan perbedaan makna antar ayat beredaksi mirip, mengungkapkan hubungan makna antar ayat beredaksi mirip dan kesimpulan. Adapun keilmuan yang digunakan sebagai alat analisa adalah: bahasa Arab (kosa kata al-Qur’an, nahwu, saraf dan balâghah), asbâb al-nuzûl, qirâ’ât, biografi Nabi Saw. dan munâsabah.

... yakni: (1) membandingkan pendapat para mufasir atas ayat-ayat tertentu, (2) membandingkan ayat-ayat beredaksi mirip yang berbicara tema yang sama dan (3) membandingkan ayat dan hadis yang secara redaksional terkesan kontradiktif.

FIQH DAN USHUL FIQH

Buku ini semulanya merupakan catatan-catatan dan konsep-konsep bahan kuliah Fiqh/ Ushul Fiqh yang dikuliahkan pada Tingkat II semester II pada Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Mata kuliah Fiqh dan Ushul Fiqh merupakan mata kuliah komponen institut pada Tingkat I (semester I dan II) pada tiap-tiap Fakultas dalam lingkungan IAIN SMHB, yang berarti buku ini dapat dipakai oleh mahasiswa IAIN dan mahasiswa perguruan Tinggi Agama Islam Swasta Banten.

Mata kuliah Fiqh dan Ushul Fiqh merupakan mata kuliah komponen institut pada Tingkat I (semester I dan II) pada tiap-tiap Fakultas dalam lingkungan IAIN SMHB, yang berarti buku ini dapat dipakai oleh mahasiswa IAIN dan mahasiswa perguruan ...

Teori Naskh Al-Qur’an Kontemporer: Studi Pemikiran Mahmud Muhammad Taha dan Jasser Auda

Diskursus studi al-Qur’an kontemporer pasca Muhammad Abduh mengalami pergeseran paradigma, dari teks ke konteks. Konteks dalam proses penafsiran mendapatkan porsi pertimbangan yang lebih dibanding era sebelumnya. Hal ini berimplikasi terhadap munculnya beragam rekonstruksi dalam melihat teori-teori klasik, salah satu diantaranya adalah teori naskh al-Qur’an. Dua dari sekian tokoh yang menawarkan pembacaan modern adalah Mahmud Muhammad Taha dan Jasser Auda. Taha membangun konstruksi teori naskh-nya di atas basis pemikirannya, yaitu evolusi syariah. Sedangkan Jasser menggugat penggunaan teori naskh berlandaskan perspektif maqashid syariatnya, yaitu teori sistem. Karena itu, buku ini berupaya menghadirkan kerangka argumen dan metodologis penafsirannya, berikut paradigma yang mendasarinya, serta relevansi pemikiran keduanya di dalam peta wacana naskh al-Qur’an kontemporer. Buku ini menyimpulkan bahwa teori naskh evolutif-progresif Taha bertumpu pada konteks dan dialektikanya terhadap realitas. Peristiwa naskh di periode Madinah dipahami tidak dalam kerangka penghapusan ayat, melainkan sebagai penggantian penerapan yang bersifat temporal. Pada saat yang sama, agar ajaran esensial yang terkandung di dalam ayat Makkiyah dapat terbuka kembali, ia membalik teori naskh konvensial, sehingga hukum mengalami gerak evolutif di sepanjang zaman. Di sisi yang lain, dalam kerangka teknis, Jasser Auda tak beranjak dari pengertian teori konvensional, namun perspektif maqashidi yang ia tawarkan menutup aplikasi yang memungkinkan terjadinya naskh. Hal itu dilakukan bertujuan untuk menunjukkan kelemahan argumen epistemologis teori naskh konvensional yang cenderung oposisi binner, menggantikannya dengan pembacaan komprehensif-multidimensional. Buku ini tidak sependapat dengan mayoritas ulama tradisional, baik tradisional secara zaman ataupun tradisional secara metodologi pembacaan.

Khudari , Muhammad al- . Uşūl al - Fiqh . Kairo : al - Maktabah al - Tujjāriyah
alKubra , 1969 . Khūli , Amin al- . “ Tafsir ” , ( ed . ) Ibrahim Zaky Khursyid . Dairah
al - Ma'ārif alIslamiyah , Vol . IX ( t.tp ) . Manāhij al - Tajdid fi al - Nahw wa al ...

Uslûb Al-Qur’ân dalam Pengungkapan Kiamat: Kajian Hadzf al-Fâʻil pada Ayat-ayat Kiamat di dalam Al-Qur’ân

Penelitian dengan judul "Uslûb Al-Qur'ân Dalam Pengungkapan Kiamat: Kajian Hadzf al-Fâ‘il pada Ayat-Ayat Kiamat di dalam Al-Qur'ân" dilatar belakangi oleh keajegan ayat-ayat Al-Qur'ân saat pertama diturunkan di Makkah. Ayat-ayat makiyyah lebih puitis, berirama, singkat, dan bersaja' dibanding madaniyyah. Konten ayat makiyyah banyak menceritakan bukti kekuasaan Allah dari alam semesta dan menjelaskan hal-hal yang sangat menakutkan seperti gambaran kehancuran alam semesta saat kiamat tiba. Tentu, karakteristik ayat-ayat seperti ini dilatarbelakangi oleh bangsa Arab Makkah yang umumnya pakar bahasa Arab tidak percaya dengan hari kiamat. Karenanya ayat-ayat kiamat sangat cocok dijadikan sebuah kajian lebih detail lagi seperti penelitian tentang penyebab ayat-ayat tersebut berstruktur singkat dengan pola yang sama yaitu pola singkat menggunakan gaya elipsis (îjâz al-hadzf). Buku ini adalah penelitian tentang uslûb bahasa Al-Qur'ân pada ayat-ayat yang khusus menjelaskan peristiwa kiamat atau ayat-ayat tentang kehancuran alam semesta. Pokok permasalahannya adalah study elipsis unsur subjek (hadzf al-fâ‘il) pada kata kerja yang terdapat dalam ayat-ayat tersebut. Masalah ini diteliti dengan pendekatan linguistik, pendekatan ilmu retorik (balagah), teori nuzûl Al-Qur'ân (ilmu makiyyah wa madaniyyah) serta dibahas dengan metode kualitatif menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat yang membahas peristiwa kiamat menggunakan tiga macam konsep gaya hadzf al-fâ‘il. Pertama penjelasan faktor utama kehancuran alam semesta dimulai dengan kehancuran matahari seperti pada ayat makiyah pertama dari surat at-Takwîr (إذا الشمس كورت) menggunakan gaya hadzf al-fâ‘il berpola majhûl untuk tujuan menarik perhatian terhadap peristiwa tanpa harus mengetahui pelaku sesungguhnya. Ayat ini seakan menarik perhatian lawan tutur bahwa peristiwa tersebut adalah peristiwa maha dahsyat yang sangat menakutkan, yang akan menjadi penyebab utama kehancuran benda-denda angkasa lainnya. Kedua berpola muthâwa‘ah seperti ayat kedua ( وإذا النجوم انكدرت) untuk menjelaskan dampak dari faktor utama seperti penjelasan ayat pertama dan menjelaskan peristiwa terjadi secara mekanik oleh sebab hukum alam atau faktor alam lainnya, sehingga sejalan dengan pola gaya yang pertama. Sebab itu ayat kedua ini tidak berbentuk majhûl (وإذا النجوم كدرت) seperti ayat pertama. Terakhir, yang ketiga menggunakan pola majâz al-‘aqli seperti yang terdapat pada potongan ayat (فإذا برق البصر). Majaz ini berfungsi untuk memberikan makna predikatif yang nyata sebagai penegasan sebuah peristiwa, bahwa kiamat itu benar-benar akan terjadi. Sehingga memberikan keyakinan pada kaum musyrikin yang ingkar terhadap kebenaran peristiwa kiamat.

Karena mereka parsial dalam memposisikan hadist itu sebagai dalil. Aisyah ra menyangkal atas keabsahan maksud hadist ini dikarenakan Abu Hurairah ra. tidak menghafalnya, sebab hadist tersebut hanya untuk pelarangan pada tema-tema syair ...