Sebanyak 5 item atau buku ditemukan

Linguistik Fenomenologi John Langshaw Austin

Ketika Tuturan Berarti Tindakan

Buku ini mendeskripsikan salah satu pemikiran Filsuf Filsafat Bahasa yang berasal dari Inggris John Langshaw Austin yang tertuang dalam bukunya yang fenomenal berjudul How to do Things with Words (1962). Pada buku inilah pemikiran Austin menemukan bentuk yang khas dan mempengaruhi perkembangan pelbagai aliran filsafat dan ilmu pengetahuan. Pemikirannya itu disebutnya sebagai Speech Acts (Tindak Tutur). Austin mempercayai bahwa unsur bahasa (what) sama pentingnya dengan dunia fenomena-fenomena (when). Ungkapan ini oleh Austin dinamainya linguistic phenomenology (linguistik fenomenologis), yaitu suatu upaya untuk menjelaskan fenomena-fenomena melalui analisis bahasa. Ungkapan linguistik fenomenologis hanyalah sebutan yang digunakan oleh Austin untuk menunjukkan aktivitas analisis bahasanya. Teori Tindak Tutur yang diciptakannya itu salah satunya menjadi dasar bagi teori Tindak Tutur di dalam linguistik pragmatik. Selain eksplorasi teoritis, buku yang ditulis oleh dosen senior Filsafat Bahasa di Universitas Nasional, Jakarta, ini juga menerapkan teori dari Austin tersebut ke dalam penelitian tentang kepenyairan Sapardi Djoko Damono (SDD). Dengan terlebih dahulu memodifikasi teori Austin menjadi metode tindak tutur komunikasi, penulis ini mendapati bahwa memaknai sajak SDD tidak cukup hanya mengandalkan sepenuhnya pada makna yang ada dalam sajak itu sendiri, melainkan harus lebih memperhatikan strategi pemaknaan yang dilakukan oleh penyairnya berdasarkan ideologi kepenyairannya dan juga berdasarkan seperangkat gagasan yang terwujud dalam kesadaran berbahasanya. Tanpa memerhatikan hal ini, kita diandaikan mengabaikan kecenderungan penyair pada umumnya dalam memakai kata-kata terpilih untuk menentukan, merefleksikan, dan mengkonstruksikan realitas; hal yang sering memicu anggapan bahwa penyair hanya mengungkapkan gambaran semu mengenai kehidupan.

Buku ini mendeskripsikan salah satu pemikiran Filsuf Filsafat Bahasa yang berasal dari Inggris John Langshaw Austin yang tertuang dalam bukunya yang fenomenal berjudul How to do Things with Words (1962).

Nyanyian kematian Sirenes

Etnografi kritis "manusia-manusia Starbucks"

Critics on capitalism in Starbucks business.

Critics on capitalism in Starbucks business.

Permainan Bahasa Ludwig Wittgenstein

Suatu Perkenalan melalui Kontekstualisasi dan Manfaatnya bagi Studi Pemertahanan Bahasa

Buku ini mendeskripsikan salah satu pemikiran Filsuf Filsafat Bahasa yang berasal dari Austria Ludwig Wittgenstein yang tertuang di dalam bukunya yang fenomenal Philosophical Investigations (1953). Pada buku inilah pemikiran Wittgenstein menemukan bentuk yang khas dan mempengaruhi perkembangan pelbagai aliran filsafat dan ilmu pengetahuan. Pemikirannya itu disebutnya sebagai Language-Games (Permainan Bahasa). Bagi Wittgenstein, bahasa itu seperti permainan olah raga yang memunyai aturannya masing-masing. Di dalam aturan-aturan itulah ditemukan suatu bentuk kehidupan (form of life),yakni bahasa berkelindan dengan pola aktivitas dan karakter manusia, dan makna bahasa diproses melalui ekspresi kebersamaan dan kodrat pengguna bahasa. Teori Permainan Bahasa yang diciptakannya itu salah satunya menjadi dasar bagi teori Tindak Tutur John langshaw Austin. Selain eksplorasi teoritis, buku yang ditulis oleh dosen tetap bidang kompetensi Filsafat di Universitas Nasional, Jakarta, ini juga menerapkan teori dari Wittgenstein tersebut ke dalam penelitian tentang pemertahanan bahasa. Berdasarkan penelitian dengan menggunakan teori dari Wittgenstein tersebut, penulis buku ini mendapati bahwa paradigma yang digunakan untuk menjelaskan isu pemertahanan bahasa tidak cukup jika hanya disandarkan pada teori strukturalisme Ferdinand de Saussure. Sebab, premis-premis yang dibangun oleh Wittgenstein memberikan pemahaman yang lebih komprehensif ketimbang premis-premis yang dibangun oleh de Saussure ketika harus berhadapan dengan isu pemertahanan bahasa

Buku ini mendeskripsikan salah satu pemikiran Filsuf Filsafat Bahasa yang berasal dari Austria Ludwig Wittgenstein yang tertuang di dalam bukunya yang fenomenal Philosophical Investigations (1953).

Langkah Kritis & Kontemporer Menulis Buku Ajar Perguruan Tinggi

Menulis diktat atau modul perkuliahan mungkin bukan hal baru bagi para intelektual kampus kita. Akan tetapi, menulis buku ajar, terutama yang berbasis penelitian, ternyata membutuhkan suatu paradigma kritis dan kontemporer sehubungan dengan upaya para intelektual kampus kita dalam membuka wawasan mahasiswanya terhadap penemuan yang berciri-ciri keindonesiaan atau penemuan yang benar-benar made in Indonesia. Buku ini dimaksudkan untuk menjawab tantangan tersebut, yakni bagaimana cara menulis buku ajar dalam paradigma kritis. Paradigma kritis yang kontemporer tersebut bertalian dengan tujuan etis di balik aktivitas menulis buku ajar, yakni agar mahasiwa kita terhindar dari praktik plagiarisme. Sebab, sudah menjadi habitus mahasiswa kita dewasa ini bahwa menulis tugas-tugas perkuliahan “harus” dilakukan dengan cara “kopas” (istilah mereka untuk copy & paste) dalam rangka mencari jalan pintas. Oleh karena itu, dibutuhkan paradigma yang kritis dan kontemporer dalam menulis buku ajar, yang dalam kaitan ini harus dimiliki para intelektual kampus kita dalam rangka menolak pemberhalaan terhadap metode dan teori Barat, yang selama ini dianggap seolah-olah benar atau seolah-olah hebat. Paradigma yang kritis dan kontemporer, yang melandasi penulisan buku ajar, juga terkait dengan fungsi buku ajar itu sendiri bagi mahasiswa, yakni dalam rangka mengenali, mengingat, dan menerapkan keilmuan yang diajarkan sang dosennya. Bertalian dengan hal itu, buku ini dapat dinilai “seirama” dengan tujuan visi Kemdikbud yang hendak membumikan teori-teori Barat menjadi termodifikasi dengan kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa Indonesia.

Menulis diktat atau modul perkuliahan mungkin bukan hal baru bagi para intelektual kampus kita.