Sebanyak 3 item atau buku ditemukan

Seri Tempo: Chairil Anwar

Chairil Anwar bukanlah sastrawan yang hanya merenung di balik meja lalu menulis puisi. Sajak “Diponegoro” yang petilannya menerakan kata-kata Maju Serbu Serang Terjang, misalnya, ia tuliskan untuk menggelorakan kembali seManga, Manhua & Manhwat juang. Melalui sajak ini, ia mengungkap sosok Diponegoro yang kuat dan liat menghadapi Belanda. Chairil tegas melawan kolonialisme. Sebuah kutipan populer yang menandakan seManga, Manhua & Manhwat itu terambil dari puisi itu: sekali berarti, sudah itu mati. Sesudah kemerdekaan, sikap juang Chairil semakin kuat terlukis dalam puisi-puisinya. Salah satunya adalah sajak “Krawang Bekasi” yang ditulis berdasarkan pengalamannya saat agresi militer Belanda I pada 21 Juli 1947. Tapak berkesenian Chairil mencuatkan namanya sebagai pelopor angkatan 45 yang mendobrak angkatan sebelumnya. Terkenal dengan potret diri yang ikonik dalam pose mengisap sebatang rokok, Chairil menghasilkan sajak-sajak yang memperkaya khazanah sastra Indonesia.

Wawasan literasi Chairil kala di MULO melampaui kawan-kawan sebayanya. Ia
melahap buku-buku sastra, sejarah, dan ekonomi yang diperuntukkan bagi
siswa HbS. begitu pula karya-karya Hendrik Marsman dan Edgar du Perron. “
Semua ...

Aku : Berdasarkan Perjalanan Hidup Dan Karya Penyair Chairil Anwar