Stanza dan Blues

Nama Rendra sudah menjadi semacam mitos dalam ranah sastra Indonesia. Gebrakannya dalam kemunculan puisi-puisi baladanya, atau teater "mini kata"-nya, atau puisi-puisi pamfletnya yang seakan menjadi penanda kegairahan dunia sastra di Indonesia. Sebagai seorang penyair, Rendra juga dikenal memiliki keunikan dalam mengolah filsafat, agama, dan dunia mistik ke dalam sajak-sajaknya. Dengan keanggunan seekor burung merak, dia bergerak dari satu tepian ke tepian lainnya. Buku ini menangkup sajak-sajak terbaik Rendra, sehingga pembaca bisa dengan mudah menemukan sajak-sajaknya yang sudah dikenal secara luas. Pembaca juga akan mendapati jejak kreativitas Rendra di dalamnya. [Mizan, Bentang Pustaka, Sastra, Seni, Sajak, Puisi, Indonesia]

Inilah misteri puisi: pendek teksnya, tapi panjang tafsirnya. Bukankah para filsuf
kerap menulis risalah-risalah tebal untuk mengatakan sesuatu, tapi kemudian
ternyata bisa disimpulkan menjadi sebaris kalimat pendek dan ringkas?