Sebanyak 2 item atau buku ditemukan

Sumber Kecerdasan Manusia

P. Ratu Ile Tokan, M.Pd. Ciri manusia yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ)dan kecerdasan spiritual (SQ) adalah manusia yang memiliki karakter berikut ini, yakni; berilmu, terampil, potensial, selalu optimis, fleksibel, empati, penuh antusias, selalu memiliki inisiatif, pemaaf, ramah dan bermurah hati, percaya diri, adaptif, inovatif, berlaku adil, jujur, selalu menebar cinta kasih, kapabel, kredibel, moderat, disiplin pribadi yang tinggi, berorientasi melayani, selalu bersyukur, mengutamakan kedamaian, responsif, berdedikasi tinggi, selalu berpikir positif, integritas tinggi, kolaboratif, kooperatif, bijaksana, menghargai waktu, kerja cerdas, menghargai keberagaman, toleran, mencintai kedamaian, mencintai alam/lingkungan, beriman dan taqwa, berakhlak mulia, peka terhadap suara hati/suara jiwa, kompetitif, selalu bergairah, berambisi yang sehat, dan lainnya. Saya meyakini bahwa, upaya membangun manusia yang berkarakter seperti di atas tidaklah sederhana walaupun didukung oleh tenaga profesional dengan berbagai fasilitas moderen serta situasi dan iklim kerja yang penuh damai. Walau demikian, kita telah memiliki sebuah kepastian bahwa dunia pendidikan atau sekolah menjadi pilihan paling strategis dalam arti, disana ada rekayasa formal untuk membangun karakter manusia secara masif. Kedamaian dalam diri (inner peace) dan keikhlasan hati dari para guru profesional yang berdedikasi dalam membangun karakter manusia di sekolah sejatinya harus menyadari bahwa, membangun manusia supaya memiliki berbagai kecerdasan secara seimbang adalah tugas mulia yang membahagiakan. manusia yang memiliki berbagai kecerdasan secara seimbang adalah manusia yang benar-benar memiliki kebahagiaan jiwa (a hapyness soul) dan hal inilah yang harus menjadi out come pembelajaran. Guru sebagai profesi yang bertanggung jawab untuk membangun karakter-karakter manusia cerdas hendaknya memahami secara konseptual berbagai peran yang termuat dalam buku ini dan memiliki kemampuan untuk mengimplementasikannya di berbagai kesempatan. Selain itu, guru juga harus memahami secara konseptual berbagai metode pembelajaran untuk disinergikan dengan perannya secara spesifik dan mengimplementasikannya selama proses pembelajaran. Buku sumber kecerdasan manusia ini melihat proses pembelajaran di sekolah dari perspektif lain. Pembelajaran dilihat sepagai suatu upaya untuk mengaktifkan dan meningkatkan frekuensi interaksi antara pikiran-badani-dan jiwa manusia (mind-body-soul) dan melalui interaksi itu, jiwa dan raga manusia pebelajar senantiasa menyerap dan memancarkan berbagai energi positif sehingga dengan demikian manusia dipermuliakan di hadapan Allah. Interaksi mind-body-soul yang memancarkan energi positif itulah yang saya sebut “sumber kecerdasan manusia” dan manusia yang selalu memancarkan energi positif itu disebut sebagai manusia yang berkarakter. Para pakar pendidikan bangsa ini sekian sering menyebut bahwa pembelajaran itu merupakan mesin utama pembangunan pendidikan dan guru disebut sebagai ujung tombaknya. Disebut ujung tombak karena profesi ini yang bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas. Proses pembelajaran itu sendiri merupakan interaksi yang kompleks dan rumit karena interaksi ini melibatkan aspek fisik dan non fisik. Untuk itu, saya berpendapat bahwa tugas negara paling utama dalam membangun pendidikan adalah meningkatkan kualitas pembelajaran melalui upaya peningkatan kualitas guru. Dengan demikian saya menganjurkan prioritas pembangunan pendidikan berikut ini: prioritas pertama adalah meningkatkan kualitas guru; prioritas kedua adalah meningkatkan kualitas guru dan; prioritas ketiga adalah meningkatkan kualitas guru. Mudah-mudahan buku ini dapat berkontribusi demi meningkatnya kualitas guru bangsa ini.

Seorang guru harus mampu membawa siswa sampai kepada suatu keyakinan
bahwa perkembangan atau kemajuan peserta didik dalam memperoleh ilmu
pengetahuan dan keterampilan harus berlangsung secara independen dan juga
 ...

Manajemen Penelitian Guru

P. Ratu Ile Tokan, M.Pd. Guru menjadi peneliti adalah sebuah pilihan yang tepat karena pilihan ini memiliki dampak positif yang luar biasa bagi upaya peningkatan kualitas guru. Kalau kita melihat hal ini dari perspektif regulasi maka, guru menjadi peneliti bukanlah sebuah pilihan saja melainkan sebuah keharusan karena, guru menjadi peneliti sudah merupakan amanat undang-undang. Walaupun demikian, pilihan dan amanat ini harus benar-benar memiliki spirit yang kuat agar konsistensinya bisa menjadi daya dorong bagi setiap guru yang melaksanakannya. Apabila kita menjabarkan hal ini lebih lanjut maka pilihan kita berikutnya adalah jenis penelitian mana yang relevan sehingga hasil dari penelitian benar-benar berdaya-guna dalam arti lebih efektif dan lebih berpotensi untuk meningkatkan kualitas guru. Saya sungguh meyakini bahwa keterbatasan yang menampak dalam berbagai referensi berkaitan dengan PTK akan memberikan inspirasi tersendiri bagi mereka yang mendalami dan mau menyempurnakan apa yang disebut sebagai PTK itu. Demi penyempurnaan PTK (PTK) maka, kita semua tentu mengharapkan keterlibatan lebih banyak orang untuk mengkaji, merekonstruksi dan memformulasikan ulang PTK ini agar hakekat dan ke ber adaannya menjadi lebih berdaya guna. Hal yang mendasari keyakinan di atas adalah bahwa; kebenaran ilmu pengetahuan bersifat relatif dan selalu terus menerus berevolusi dan beradaptasi dengan kemajuan zaman. Selain itu bahwa; sebuah metodologi, formulasi, proses, dan mekanisme selalu fl eksibel dalam arti bisa diperbaiki dan disempurnakan. Walaupun istila PTK terlanjur menjadi istilah yang sangat populer di kalangan dunia pendidikan namun, keberadaannya yang terbatas itu masih harus terus menerus disempurnakan. Saya yakin bahwa banyak pakar akan terus mengkaji dan berniat untuk menyempurnakan PTK ini. PTK memang harus terus menerus disempurnakan oleh karena beberapa alasan yakni: 1. PTK sudah menjadi kebutuhan bangsa ini khususnya dunia pendidikan yang sedang giat-giatnya berupaya untuk meningkatkan kualitas guru. 2. PTK dapat dilihat sebagai sarana atau fasilitas untuk membantu guru dalam upaya untuk meningkatkan kualitas diri pribadinya menuju suatu pengakuan formal maupun informal terhadap keprofesionalannya. 3. PTK sudah menjadi suatu keharusan karena keberadaannya bukan hanya untuk memenuhi perintah undang-undang melainkan karena kontribusinya yang signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas guru bangsa ini. Gambaran singkat di atas hendaknya menjadi spirit bagi siapa saja yang berkehendak baik untuk terlibat dan berkontribusi dalam upaya penyempurnaan PTK baik dalam tataran regulasi, konsep, implementasi, dan manajemennya. Dengan harapan agar keberadaan PTK lebih sempurna dan lebih berdayaguna untuk memajukan pendidikan bangsa ini.

P. Ratu Ile Tokan, M.Pd. Guru menjadi peneliti adalah sebuah pilihan yang tepat karena pilihan ini memiliki dampak positif yang luar biasa bagi upaya peningkatan kualitas guru.