Islam Tanpa Ekstremisme
Dalam tenunan narasi pribadi yang menyentuh ini, Mustafa Akyol menerangi satu tantangan sentral mengenai relasi Timur-Barat saat ini: adaptasi Islam terhadap modernitas. Ia menelusuri garis langsung para sarjana Islam yang tercerahkan pada pada Abad Pertengahan dengan rekan-rekannya di dunia kontemporer, sambil menggarisbawahi perbedaan antara islamisme progesif dengan keteganganketegangan politik Islam yang lebih kontroversial. Melalui buku yang baik ini, ia mencoba menyatukan pelajaran dari Turkibaik Utsmani maupun kemalis untuk masyarakat muslim lainnya dan bahkan Barat. PARAG KHANNA, (Senior Fellow, New America Foundation, pengarang buku The Second World and How to Run the World) Pada saat pemahaman dan interpretasi keyakinan umat Islam dan praktiknya tidak pernah menjadi persoalan lagi, Mustafa Akyol menghadirkan kasus meyakinkan mengenai sumber-sumber liberalisme dan demokrasi yang ada di dalam Islam. Dalam buku yang layak dibaca dan bernilai tinggi ini, Akyol mengutip peristiwa-peristiwa penting, gerakan-gerakan, ide-ide dalam Islam yang sedikit diketahui oleh nonmuslimdan bahkan bagi kebanyakan umat Islam, yang mengasumsikan bahwa tafsir otoritarian dan kaku atas Islam adalah Islam yang sebenarnya. Akyol berseManga, Manhua & Manhwat menjelaskan mengapa itu terjadi dan berharap untuk sebuah evolusi liberal masa depan, pemikiran demokratik dan praktiknya dalam masyarakat Islam. GRAHAM FULLER, (Penulis A World without Islam)
- ISBN 13 : 6020244849
- ISBN 10 : 9786020244846
- Judul : Islam Tanpa Ekstremisme
- Pengarang : Mustafa Akyol,
- Kategori : Religion
- Penerbit : Elex Media Komputindo
- Bahasa : id
- Tahun : 2014
- Halaman : 392
- Halaman : 392
- Google Book : https://play.google.com/store/books/details?id=nN9MDwAAQBAJ&source=gbs_api
-
Ketersediaan :
Dia membuat pidato it a l P yang alasan kebeDig mengesankan di Istanbul dan
mengirim lusinan telegram kepada para tokoh Kurdi di Timur, semua membela
konstitusionalisme, demokrasi perwakilan, dan kebebasan berpikir.6 Ketika
Kekaisaran Utsmani memasuki Perang Dunia I, Nursi ikut mengangkat senjata,
bersama dengan murid-muridnya, untuk melindungi perbatasan timur dari militer
Rusia—hanya untuk ditangkap sebagai tawanan perang. Segera setelah
dibebaskan, ia ...