Sebanyak 2 item atau buku ditemukan

Landasan Teoretis Tradisi Semiotika di dalam Al Quran

Paradigma Ilmu Komunikasi dalam Perspektif Islam

Semiotika, (semeion, Yunani) studi mengenai tanda, mendapati relevansinya pada berbagai aspek kehidupan secara luas. Sebagaimana semesta terdiri dari anasir tanda-tanda, praktis Semiotika merupakan disiplin ilmu dengan bentang kajian yang amat luas; dari tanda-tanda alamiah kodrati pada manusia, hewan dan tumbuhan hingga tanda-tanda simbolis dalam ilmu pengetahuan, agama dan budaya manusia. Tak ayal jika tokoh-tokoh di balik kajian Semiotika berasal dari lintas disiplin ilmu yang pada gilirannya melahirkan cabang-cabang Semiotika khusus seperti bio-semiotics, zoo-semiotics, musical semiology, dan lain sebagainya. Dalam perspektif Islam, konsep inti pada tradisi semiotika, yaitu tanda atau tanda-tanda (sign(s)) juga merupakan salah satu konsep utama dalam Islam yang dikenal dengan al-ayah atau al-ayât yang memiliki arti yang luas. Tradisi berpikir mengenai dan melalui tanda-tanda (tadabbur al ayât) merupakan hal yang sangat lekat dalam tradisi keilmuwan Islam. Allah berfirman dalam QS Yusuf (12):1 “Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat Kitab (Al Qur’an) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” Secara implisit, ayat tersebut menjelaskan keterkaitan antara sign yang dipahami Peirce dan Saussure harus berdimensi material, dalam Al-Quran disebut nyata (al mubiin), sehingga dapat dipersepsi dan diyakini manusia. Ayat tersebut juga menyiratkan keterkaitan antara bahasa sebagai moda simbolik dan kesadaran atau pemahaman terhadap makna, yang disampaikan Al Quran dalam untaian kalimat "innaa anzalnaahu Quraanan ‘arabiyyan la’allakum ta’qilun."

Semiotika, (semeion, Yunani) studi mengenai tanda, mendapati relevansinya pada berbagai aspek kehidupan secara luas.

Epistemologi dalam Filsafat

Sebuah Pengantar

Epistemologi sebagai sebuah cabangkajian dalam filsafat, membahas tentang karakteristik, asal usul, dan batasan-batasan pengetahuan manusia (Martinich: 2019). Termin ‘epistemologi’ berasal dari bahasa Yunani, yaitu epistēmē atau "pengetahuan" dan logos yang berarti "nalar" atau “ide”, sehingga epistemologi secara konseptual dapat dipahami sebagai teori ilmu pengetahuan. Epistemologi memiliki sejarah panjang dalam filsafat Barat, berakar dari tradisi Yunani kuno dan berlanjut hingga saat ini. Bersama dengan metafisika, logika, dan etika, epistemologi adalah satu dari empat cabang utama filsafat, dan dikembangkan oleh hampir semua filsuf besar yang dikenal sepanjangsejarah. Epistemologi merupakan bidang kajian yang sangat sentral dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Karena tema pokok dan isu-isu terkait dengannya, sebagaimana diuraikan secara ringkas dalam makalah ini, pada intinya berupaya menjawab bagaimana manusia mengetahui sesuatu? Sebangun dengan pertanyaan itu, bagaimana manusia, melalui pemikirannya membangun ilmu pengetahuan? Isu-isu pokok sepertibatasan sensasi dan persepsi manusia, berbagai konsep ilmu pengetahuan (Mental vs Non-Mental, Occasional vs Dispositional, A Priori vs A Posteriori, Necessary vs Contingent, Tautologi vs Signifikan, Bawaan vs Latihan), perbedaan paradigmatik atas dunia luar dan alam pikiran lain, hingga tiga aliran pemikiranyang berkembang; Rasionalisme, Empirisme dan Skeptisisme, membantu mengkonstruksi gagasan bagaimana epistemologi sebagai sebuah cabang dari filsafat betkontribusi dalam pengembangan iu pengetahuan dalam kehidupan manusia.

Epistemologi sebagai sebuah cabangkajian dalam filsafat, membahas tentang karakteristik, asal usul, dan batasan-batasan pengetahuan manusia (Martinich: 2019).