Sebanyak 187 item atau buku ditemukan

Kemiskinan

teori, fakta, dan kebijakan

Poverty in Indonesia; economic conditions and policies.

Dalam gambarannya, masyarakat Barat pada saat itu telah bangkit kembali dari
krisis ekonomi berat. Selanjutnya, perhatian pada masalah kemiskinan secara
implisit sesungguhnya juga terjadi ketika sejumlah ekonom seperti Simon
Kuznets, Selma F. Goldsmith, Robert M. Solow, dan Harry Oshima, membahas
soal pembagian pendapatan masyarakat. Secara garis besar pembahasannya
terpusat. 24. M. Dawam Rahardjo, Ibid., hlm. 5-6. 25 M. Dawam Rahardjo, Ibid.,
hlm. 7.

Analisis Struktur Cerita Pendek, 1935-1939

Studi Kasus Majalah Panji Pustaka, Panji Islam, Dan Pujangga Baru

Criticism of Indonesian short stories, issued in Panji pustaka, Panji Islam and Pujangga baru magazines.

Studi Kasus Majalah Panji Pustaka, Panji Islam, Dan Pujangga Baru Atisah,
Sulistiati, Ni Nyoman Subardini, Proyek Pembinaan ... Pendidikan para tokoh-
bagi tokoh yang sudah mengenyam pendidikan- umumnya HIS ("Menoeroetkan
398.

60 Tahun Jimly Asshiddiqie: Menurut Para Sahabat

Seorang Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie. Perjalanan dan pengalaman ahli Tata Negara Indonesia selama lebih dari 30 tahun di berbagai tugas kenegaraan dan jabatan publik, pendidikan dan organisasi kemasyarakatan begitu panjang, sehingga tidak heran kalau begitu banyak pula tokoh Indonesia yang mengirim tulisannya untuk dimuat di buku ini. Tetapi bukan pula sedikit banyaknya tulisan atau kepopuleran menjadi landasan orang itu disebut tokoh atau pemimpin. Demikianlah, seorang tokoh baru dapat disebut pemimpin ketika orang mengakuinya sebagai orang yang telah teruji. Mereka adalah sejumlah kecil orang istimewa yang berhasil tampil ke depan, sebagai perintis, pelopor, ahli piker dan organisatoris. Walau pun jumlahnya kecil tetapi menentukan arah keadaban dan kemajuan rakyat, bangsa, dan Negara. Sebagian besar pandangan, dan komentar para tokoh nasional yang tersaji dalam buku ini, umumnya melihat sosok Prof. Jimly sebagai tokoh pemikir yang memiliki akar kepemimpinan yang bersumber pada kekuatan budaya intelektualisme. Akar intelektualisme Jimly dimanifestasikan dalam realitas pengabdian pada struktur kenegaraan yang dikembangkan menjadi lebih dinamis dan progresif. Terdapat begitu banyak gerakan intelektualisme Prof. Jimly untuk membongkar struktur pemikiran dari proseduralistik menjadi lebih substantif dengan tujuan dapat bekerjanya sistem norma hukum, norma etika, dan norma agama secara serasi, selaras, dan saling menopang. Sedikit tokoh istimewa yang sekarang ini ada di Indonesia, salah satunya adalah Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. Pria yang mudah membangun komunikasi, jangkauan pandangan yang luas, pendidikan yang sangat memadai, dan ditambah sifat pantang runtuhnya menghadapi tantangan hidup ini, telah malang melintang berada di struktur kekuasaan. Selama menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi dan Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu, banyak melakukan gebrakan positif, di antaranya mempelopori peradilan etika yang diselenggarakan secara terbuka. Sosok dan kiprah Prof. Jimly dalam mengawal konstitusi dan aktivitasnya dalam penyelenggaraan pemilu berintegritas menjadi daya tarik tersendiri dari para koleganya untuk berkomentar.

Sebutlah misalnya dalam seminar internasional “Mukjizat Alquran dan Assunnah
tentang IPTEK” kerjasama ICMI - Rabithah Alam Islamy dan pembentukan
International Federation Human Resources Development (IFTIHAR). Saya
selaku ...

“PENERAPAN PP NO.71 TAHUN 2010 DALAM PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET KOTA PADANG PANJANG”,

Sejarah Permuseuman di Indonesia

History of museums in Indonesia.

1.1 Pengantar dan Latar Belakang Sejak masa prasejarah hingga sekarang,
kebudayaan Indonesia senantiasa mengalami proses dinamika. Kebudayaan ...
Kebudayaan Islam Nusantara telah memperkaya peradaban Indonesia
selanjutnya.

Mengeksplorasi keanekaragaman hayati, lingkungan dan pandangan masyarakat lokal mengenai berbagai lanskap hutan

metode-metode penilaian lanskap secara multidisipliner

60 TAHUN JIMLY ASSHIDDIQIE SOSOK, KIPRAH, DAN PEMIKIRAN

Perkembangan Ilmu Tata Negara Indonesia tidak lepas dari pemikiran dan kiprah Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H. Pria kelahiran Palembang, 17 April 1956 ini banyak menghabiskan pendidikan akademisnya di dalam maupun luarnegeri. Pendidikan doktoralnya diselesaikan di Fakultas PascaSarjanaUniversitas Indonesia (program “ doctor by research), kerja sama dengan Rechtsfaculteit, Rijksuniversiteit, Leiden, tahun 1987-1991. Pengabdiannya dalam tugas kenegaraan dan jabatan publik (sekarang menjabat Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu), pendidikan dan organisasi kemasyarakatan, telah mengantarkan ahli Hukum Tata Negara Indonesia ini menerima Bintang Mahaputera Adipradana pada tahun 2009, dan Bintang Mahaputera Utama tahun 1999. Sebagai anak seorang guru (era awal tahun ’60-an) pada umumnya, Prof. Jimly, begitu “prajuritnya menyebut”, tumbuh kembang di tengah keterbatasan dan disiplin yang kuat. Masa kecil sebagai loper koran, berjualan minuman es, pendidikan dengan tradisi keagamaan yang kuat, dan kutubuku, semakin menegaskan karakter akademiknya. Mantan Presiden B.J. Habibie menyebut Jimly Asshiddiqie sebagai seorang tokoh muda Islam yang sangat rasional, sistematis, dan analis profesional. Buku ini merekam pelbagai peristiwa, menghadirkan fakta dengan menggambarkan suatu realitas pemikiran dan praktik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia dari pelbagai sudut pandang. Gerakan pemikiran dan transformasi sistem kehidupan ketatanegaraan di Indonesia yang terus mengalami kemajuan, secara langsung maupun tidak langsung telah menempatkan Prof. Jimly pada suatu pengertian sebagai sosok intelektual akademik. Konsistensinya pada dunia keilmuan dan pengabdian yang senantiasa menekankan pada aspek profesionalis melengkapi pribadi pakarHukum Tata Negara ini menjadi salah satu tokoh intelektual penting yang ikut memainkan peran kebijakan pembangunan nasional

Kisah tersebut kembali dituturkan oleh Drs. Muhammad Suhadi, Ketua Umum
Yayasan Pendidikan Islam Al-Azhar (YPAI). Pria berusia 65 tahun itu
menjelaskan lika-liku perjalanan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Bagi
Suhadi ...