Buku asli ini berjudul An-Nawazil Al-Kubra fi At-Tarikh Al-Islami (Bencana-bencana Besar dalam Sejarah Islam). Bencana-bencana yang dimaksud adalah; jatuhnya Baghdad di tangan pasukan Mongol pada tahun 656 H, jatuhnya Baitul Maqdis di tangan tentara Salib pada tahun 492 H, lalu jatuhnya Granada di Andalusia dan berakhirnya daulah Islam di negeri itu pada tahun 897 H/1592 M, Terakhir adalah jatuhnya kekhalifahan Utsmani pada tahun 1342 H/1924 M yang merupakan akhir dari benteng pertahanan Islam. Empat kota bersejarah yang menjadi basis kekuatan Islam pada masa lalu itulah yang menjadi pembahasan dalam buku ini. Sang penulis, Dr. Fathi Zaghrut, tak hanya menggambarkan tentang keruntuhan basis-basis pemerintahan Islam tersebut, tetapi juga memberikan analisa-analisa yang tajam tentang mengapa kota-kota tersebut mengalami keruntuhan? Karena itu, buku ini tidak mengajak kaum muslimin untuk meratapi apa yang telah terjadi pada masa lalu, tetapi mengajak kita semua untuk belajar, melakukan introspeksi, dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak melakukan kesalahan di masa lalu. Mengambil hikmah yang terserak dari peristiwa masa lalu, inilah yang menjadi poin terpenting dalam buku ini.
3- Munculnya peradaban yang dipengaruhi oleh Islam Setelah penjelasan mengenai penaklukan-penaklukan ini, ... dengan apa yang dilakukan oleh para penjajah salibis di abad pertengahan, atau bahkan para penjajah mereka di masa modern ini; ...
... yang lain, atau meninggalkan satu kitab dari kitab-kitab yang lain, dan tidak
fanatik terhadap satu mazhab dari mazhab-mazhab yang lain, karena pendapat
dan mazhab kita mengandung keseluruhannya dan menghimpun semua ilmu".
Existe-t-il une notion juridique de l’identité constitutionnelle ? C’est à travers l’étude de la compatibilité entre les traits généraux de la notion d’identité et les principes juridiques à la base de la notion de Constitution que l’opportunité, voire la nécessité de l’appropriation par le droit constitutionnel de la notion d’identité doit être vérifiée. Mais peut-on parler d’identité constitutionnelle libanaise ? L’ordre constitutionnel de ce pays à la lisière de plusieurs civilisations, mosaïque de plusieurs peuples, communautés religieuses et identités, illustrera paradoxalement la solidité et la flexibilité de l’identité constitutionnelle. L’étude de l’histoire constitutionnelle libanaise et de sa dynamique constitutionnelle sera nécessaire pour mesurer les effets juridiques de l’identité constitutionnelle, envisagée également sous un angle contentieux et de droit comparé.