Sebanyak 23 item atau buku ditemukan

EVALUASI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI

Evaluasi pembelajaran, fungsi evaluasi pembelajaran, prosedur evaluasi pembelajaran, jenis evaluasi pembelajaran, evaluator evaluasi pembelajaran, intrumen tes objektif evaluasi pembelajaran, instrumen tes subjektif evaluasi pembelajaran, instrumen non tes evaluasi pembelajaran, penskoran tes domain kognitif evaluasi pembelajaran, penskoran tes domain afektif evaluasi pembelajaran, penskoran tes domain psikomotorik evaluasi pembelajaran, penskoran klasikal evaluasi pembelajaran, penilai valuasi pembelajaran, penilaian kognitif, psikomotorik, afektif dalam valuasi pembelajaran

Evaluasi pembelajaran, fungsi evaluasi pembelajaran, prosedur evaluasi pembelajaran, jenis evaluasi pembelajaran, evaluator evaluasi pembelajaran, intrumen tes objektif evaluasi pembelajaran, instrumen tes subjektif evaluasi pembelajaran, ...

Perilaku Bom Bunuh Diri dengan Atas Nama Agama dalam Perspektif Filsafat Islam: Bintang Pustaka

Fenomena bom bunuh diri, masa ini kembali mengemuka, bahkan kejadian terakhir muncul di Makasar. Bom bunuh diri dilakukan di depan gereja. Surat wasiat yang disebutsebagai peninggalan pelaku menggunakan simbol-simbol keagamaan. Sehingga buku ini, walau penelitian dilakasanakan sepuluh tahunj lalu, tetap saja relevan untuk diterbitkan kembali.

... “Integrasi Imtaq dan Iptek dalam Pengembangan Pendidikan Islam”, Nidhomul Haq: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 1(2), 2016, hal 59-69.

Pembelajaran Bahasa Arab di Madrasah

Dengan buku ini, akan menjadi media untuk tetap memberikan kesempatan bagi mahasiswa yang mengikuti perkuliahan. Belajar tidak hanya sebatas dalam ruang yang tertutup dengan kehadiran guru sebagai fasilitator. Lebih dari itu, belajar dapat dimana saja dan dari mana saja. Tugas guru salah satunya, memberikan kesempatan bagi setiap warga belajar untuk senantiasa mendapatkan waktu belajar yang sesuai dengan kesempatan dan juga kesesuaian minat. Buku ini dimulai dengan semangat itu “memberikan kesempatan”. Maka, inilah wujud sebuah kolaborasi antara warga dalam kelas. Tidak hanya karena dosen, tetapi semua warga yang ada dalam kelas terlibat untuk turut memberikan kolaborasi. Buku ini menjadi bukti, bahwa dengan kerjasama dan kesatuan tujuan akan ada hasil yang diharapkan. Sebuah mitos selalu menjadi bagian dari kehidupan kita di Indonesia bahwa “kerja tim sebuah hal yang susah”. Mitos itu kemudian tidak menjadi momok dan penghalang dalam mengelola semua potensi kelas yang ada. Di tangan kita, buku ini menjadi bagian dari usaha untuk memberikan sumbangsih dengan adanya kerjasama maka selalu dapat mewujudkan capaian sesuai dengan tujuan bersama. Buku Pembelajaran bahasa arab di madrasah ini diterbitkan oleh penerbit deepublish dan tersedia juga versi cetaknya.

Buku Pembelajaran bahasa arab di madrasah ini diterbitkan oleh penerbit deepublish dan tersedia juga versi cetaknya.

BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH

Menurut Horisin (2007) bimbingan dan konseling sering dimaknai secara tidak tepat oleh sebagian orang bahkan oleh praktisi bimbingan konseling sendiri. Dengan kata lain sering muncul persepsi negatif tentang bimbingan konseling dari sebagian kepala sekolah, pengawas, pegawai, guru-guru, siswa bahkan guru pembimbing sendiri. Beberapa kesalahan itu menurut Prayitno (Tohirin 2007) yaitu : 1. Bimbingan dan koseling disamakan saja dengan pendidikan, sehingga bimbingan konseling tidak diperlukan kerena di sekolah telah tempat diselenggaralannya pendidikan, sehingga dengan sendirinya bimbingan konseling telah masuk kedalam proses pendidikan tersebut. Sekolah tidak perlu melaksanakan pelayanan bimbingan konseling secara mandiri, tetapi mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari usaha pendidikan. 2. Bimbingan konseling dipisahkan dari pendidikan. Pelayanan bimbingan konseling dianggap harus benar-benar dilaksanakan secara khusus oleh tenaga-tenaga yang ahli dalam bidangnya dan secara nyata harus dibedakan dari praktik pengajaran dan pendidikan. 3. Guru pembimbing atau konselor di sekolah dianggap sebagai polisi sekolah yang tugasnya menjaga dan mempertahankan tata tertib, disiplin dan keamanan sekolah. Anggapan tersebut muncul karena sering muncul fakta-fakta di mana guru pembimbing diberikan tugas mengusut perkelahian antar siswa, pencurian di kelas, mengintrogasi siswa yang bersalah dan menghukum siswa yang melakukan kesalahan. 4. Bimbingan konseling dianggap semata-mata proses pemberian nasihat. Selain pemberian nasihat, umumnya siswa membutuhakan hal lain sesuai dengan masalah yang dihadapinya, yang memerlukan pelayanan lain seperti pemberian informasi, penempatan, penyaluran, bimbingan belajar dan pelayanan khusus. 5. Bimbingan konseling dibatasi hanya menangani masalah yang bersifat insidental (waktu tertentu saja) yaitu pada saat siswa mendapatkan masalah. Padahal bimbingan konseling menjangkau dimensi waktu yang bukan hanya waktu sekarang, namun juga masa lalu dan masa yang akan datang, karena biasanya masalah yang dihadapi siswa sekarang ini berkaitan dengan masa lalu dan akan berdampak pada masa yang akan datang. 6. Bimbingan konseling hanya untuk siswa tertentu saja. Khusus pada anak-anak yang memiliki keistimewaan seperti karena warna kulit, status atau kekayaan. Hakikatnya bimbingan konseling diberikan kepada individu atau kelompok yang memerlukannya. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap siswa dalam pelayanan bimbingan konseling. 7. Bimbingan konseling melayani orang sakit atau orang yang kurang normal adalah merupakan anggapan yang kurang tepat. Bimbingan konseling melayani orang yang normal dan sehat yang mengalami suatu masalah tertentu. Jika ada siswa yang mengalami masalah fisik (sakit) maka yang ia akan menjadi pasien dokter dan jika mengalami masalah psikis seperti gangguan jiwa yang atau stres maka sebaiknya menjadi pasien psikolog. 8. Bimbingan konseling bekerja sendiri. Hal tersebut merupakan anggapan yang keliru karena bimbingan konseling terintegrasi dengan program pendidikan dan pembelajaran lainnya di sekolah. Oleh karena itu guru pembimbing harus bekerja sama dengan orang-orang yang dapat membantu menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi sisiwa seperti bekerja sama dengan orang tua, guru, teman di sekolah dan di luar sekolah. 9. Konselor harus aktif dan siswa harus pasif adalah anggapan yang tidak tepat, karena proses pelayan bimbingan konseling bukan hanya menuntut keaktifan dari konselor, namun juga menuntut keaktifan dari siswa. 10. Bimbingan konseling dapat dilakukan oleh siap saja. Ini merupakan anggapan yang keliru karena pelayanan bimbingan konseling dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan yang mengikuti teori, tujuan, metode dan asas tertentu. Oleh karena itu pelayanan bimbingan konseling tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. 11. Bimbingan konseling berpusat pada keluhan saja, juga merupakan anggapan yang keliru, karena pemberian layanan bimbingan konseling memang diawali dengan melihat gejala atau keluhan awal yang disampaikan oleh siswa. Tetapi seorang konselor apabila pembahasanya dikembangkan, sering kali ternyata masalah yang sebenarnya lebih kompleks dari yang disampaikan oleh keluhan pertama siswa, sehingga pemberian bantuan harus dipusatkan kepada masalah yang sebenarnya. Konselor harus mampu menyelami sedalam-dalamnya masalah siswa yang sebenarnya. 12. Bimbingan konseling harus memiliki hasil yang harus segera dilihat. Anggapan tersebut adalah merupakan anggapan yang keliru, karena pelayanan bimbingan konseling berkenaan dengan aspek-aspek psikis dan tingkah laku, yang tidak semudah membalik telapak tangan, yang kemungkinan hasil bimbingan tidak langsung terlihat. 13. Bimbingan konseling menggunakan pemecahan masalah yang sama kepada semua siswa. Padahal sebenanya setiap individu memiliki karakteristik yang berbeda antara satu dengan yang lain. Masalah yang sama dialami oleh dua orang yang berbeda kemungkinan akan menuntut cara pemecahan yang berbeda. 14. Bimbingan konseling memusatkan pada pengunaan instrumen. Ini merupakan anggapan salah karena instrumen hanyalah merupakan alat bantu dalam melakukan bimbingan konseling. Intrumen tersebut tidak boleh mengganggu, menghambat bahkan melumpuhkan usaha pelayanan bimbingan konseling. Artinya dengan instrumen atau tampa instrumen , usaha bimbingan pelayanan bimbingan konseling tetap harus dilakukan.

Bimbingan dan koseling disamakan saja dengan pendidikan, sehingga bimbingan konseling tidak diperlukan kerena di sekolah telah tempat diselenggaralannya pendidikan, sehingga dengan sendirinya bimbingan konseling telah masuk kedalam proses ...

Peserta didik dan guru bimbingan konseling dalam pembelajaran

Diandra Kreatif

Pelaksanaan bimbingan dan konseling berfungsi untuk mencapai tujuan pendidikan, yang dalam pelaksanaannya harus dikelola sebaik dan seefisien serta seefektif mungkin yang selaras dengan prinsip–prinsip suatu program. Sebagaimana dalam hasil penelitian mengenai persepsi siswa terhadap eksistensi guru bimbingan dan konseling (studi kasus SMA di Sorong), secara umum siswa menilai guru pembimbing yang bertugas memberikan layanan bimbingan dan konseling di sekolah senantiasa menunjukkan sikap yang positif, dan ternyata latar belakang pendidikan guru bukan menjadi tolak ukur untuk mencapai keberhasilan. Sehingga dalam proses pelaksanaannya masih ada beberapa metode yang perlu ditingkatkan. Akan tetapi ditinjau dari aspek perilaku guru pembimbing, penampilan guru pembimbing, maupun unjuk kerja guru pembimbing dalam setiap layanan bimbingan dan konseling dinilai positif oleh siswa didalam pelaksanaannya. Buku ini memaparkan persepsi siswa terhadap eksistensi guru bimbingan dan konseling pada SMA di Sorong, bahwa guru bimbingan dan konseling pada SMA di Sorong telah melakukan kinerja dengan baik atau positif dengan berdasarkan hasil penelitian yang dilaksanakan

Bila dijabarkan lebih lanjut maka dalam hal kualifikasi ahli para tamatan suatu sekolah atau lembaga pendidikan sekurang-kurangnya memiliki empat kompetensi pokok, yaitu kompetensi religius, kompetensi akademis atau profesional, ...

Strategi dan Teknik Penulisan Skripsi

Penerbitan ini menjadi dimulai sebagai program yang dicanangkan oleh Pusat Penjaminan Mutu, untuk mendorong peningkatan standar mutu penulisan skripsi mahasiswa. Pada tahap awal, dimaksudkan untuk keseragaman penulisan, tetapi pada tahap berikutnya setelah penggunaan selama setahun pedoman ini, mahasiswa dituntut untuk meningkatkan mutu karya skripsi. Mutu yang diinginkan dalam bentuk kaedah-kaedah penulisan yang menjadi standar akademik. Dengan standar tersebut, maka karya mahasiswa dapat sejajar dengan perguruan tinggi alam skala nasional dan juga dalam wilayah pendidikan tinggi internasional. Karya ilmiah dalam konteks perguruan tinggi bukan lagi kewajiban tetapi merupakan kebutuhan. Ini bermakna bahwa tanpa aktivitas ilmiah yang salah satu dalam bentuk penelitian, maka perguruan tinggi semata-mata hanya akan menjadi menara gading di tengah masyarakat. Padahal, semestinya lembaga pendidikan tinggi, harus menjadi pionir dalam pengembangan kapasitas masyarakat melalui penelitian yang dapat memberikan sumbangsih pemikiran kepada para praktisi.

Penerbitan ini menjadi dimulai sebagai program yang dicanangkan oleh Pusat Penjaminan Mutu, untuk mendorong peningkatan standar mutu penulisan skripsi mahasiswa.

Sipakatau: Konsepsi Etika Masyarakat Bugis

Kajian tentang etika budaya Sipakatau Bugis Bone merupakan persoalan yang akan hangat dan penting. Mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya, karena dari-Nyalah berawal penciptaan yang akan membawa dampak pada seluruh aspek kehidupan. Menyadari luasnya persoalan sipakatau yang tidak mungkin dapat dibahas tuntas, maka penulis mengharapkan kepada para pembaca agar tidak puas dengan hasil kajian yang penulis ketengahkan ini. Karena masih banyak segi imajinasi budaya lainnya yang belum tersentuh secara mendalam, terutama bagi bahwa buku yang menyangkut etika budaya sipakatau tersebut masih terhitung kali pertama oleh penulis, sehingga ke depan semoga akan lahir tulisan selanjutnya untuk lebih memperluas dan memperdalam lagi tentang nilai-nilai budaya sipakatau tersebut. Kajian tentang etika budaya sipakatau Bugis Bone sangat baik untuk dikembangkan dalam kajian keilmuan karena sejarah menunjukkan bahwa arus globalisasi dunia telah merambah semua sendi-sendi bangsa, termasuk dalam dunia kebudayaan Indonesia secara nasional. Aplikasi etika budaya sipakatau dalam buku sebagai metode dan sarana buku juga dapat dijadikan wacana dalam memahami realitas kultur sosial Sulawesi Selatan secara umum dan Bugis Bone secara khusus.

1981. Jilid 5. Yang Disadur dalam BBuku Nilai-nilai Budaya Sipakatau Bugis”
Jembatan. Jakarta. 1974. Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:
Jambatan. 1975. Mahyuddin, J. Etika al-Gazali: Etika Majemuk di dalam Islam.
Pustaka. 1989. Mappasala, Andi. Lontara. Mattulada. Latoa: Suatu Tulisan
Analisis terhadap Antropologi Politik Orang Bugis. Jakarta: Universitas Indonesia
. 1975. Mattulada. Latoa: Suatu Tulisan Analisis terhadap Antropologi Politik
Tanah Bone.